Archive for November 2017
Budaya
Megalitikum Sumatera Selatan
Selama ini, Pagaralam memang telah dikenal dengan
peninggalan zaman megalitikum. Hal ini terbukti dengan penemuan arca-arca yang
tersebar di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, seperti Karangindah, Tinggiari
Gumai, Tanjungsirih, Padang Gumay, Pagaralam, Tebatsementur (Tanjungtebat),
Tanjung Menang-Tengahpadang, Tanjungtebat, Pematang, Ayik Dingin, Tanjungberingin,
Geramat Mulak Ulu, Tebingtinggi-Lubukbuntak, Nanding, Batugajah (Kutaghaye
Lame), Pulaupanggung (Sekendal), Gunungmigang, Tegurwangi, dan Airpur.
Batu Gajah
Penemuan yang paling menarik adalah megalitik yang
dinamakan Batugajah, yakni sebongkah batu berbentuk telur, berukuran panjang
2,17 m, dan dipahat pada seluruh permukaannya. Batu dipahat dalam wujud seekor
gajah yang sedang melahirkan seekor binatang antara gajah dan babi-rusa,
sedangkan pada kedua belah sisinya dipahatkan dua orang laki-laki. Temuan batu
gajah dapat membatu usaha penentuan umur secara relatif dengan gambar nekara itu
sebagai petunjuk yang kuat. Dari petunjuk-petunjuk di atas, para ahli
berkesimpulan bahwa budaya megalitik di Sumatera Selatan, khususnya di
Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, berlangsung pada masa perundagian. Pada masa ini, teknik pembuatan benda logam mulai
berkembang.
Sebuah nekara juga dipahatkan pada arca dari Airpuar.
Arca ini melukiskan dua orang prajurit yang berhadap-hadapan, seorang memegang
tali yang diikatkan pada hidung kerbau, dan orang yang satunya memegang
tanduknya. Kepala serigala (anjing) tampak di bawah nekara perunggu tersebut

Arca Batu
Arca/patung-patung dari batu yang berbentuk binatang
atau manusia. Bentuk binatang yang digambarkan adalah gajah, kerbau, harimau
dan moyet. Sedangkan bentuk arca manusia yang ditemukan bersifat dinamis. Arca
batu gajah adalah patung besar dengan gambaran seseorang yang sedang menunggang
binatang yang diburu. Arca tersebut ditemukan di daerah Pasemah (Sumatera
Selatan). Daerah-daerah lain sebagai tempat penemuan arca batu antara lain
Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Di Indonesia, beberapa etnik masih
memiliki unsur-unsur megalitik yang dipertahankan hingga sekarang.
1. Pasemah

Pasemah
merupakan wilayah dari Propinsi Sumatera Selatan, berada di kaki Gunung Dempo.
Tinggalan-tinggalan megalitik di wilayah ini tersebar sebanyak 19 situs,
berdasarkan penelitian yang di lakukan oleh Budi Wiyana (1996), dari Balai
Arkeologi Palembang.
Megalitik
Pasemah adalah peninggalan tradisi budaya megalitik di daerah Pasemah (Sumatera
Selatan). Megalitik di wilayah Pasemah muncul dengan bentuk yang unik, langka,
dan mengandung unsur kemegahan serta keagungan yang terwujud dalam
bentuk-bentuk yang sangat monumental. Simbol-simbol yang ingin disampaikan oleh
pemahat erat kaitannya dengan pesan-pesan religius.
Budaya megalitik Pasemah mulai
diteliti pertama kali dan ditulis oleh L. Ullmann dalam artikelnya
Hindoe-belden in binnenlanden van Palembang yang dimuat oleh Indich Archief
(1850). Dalam tulisan Ullmann tersebut H. Loffs menyimpulkan bahwa arca-arca
tersebut merupakan peninggalan dari masa Hindu. namun pendapat ini ditentang
oleh Van der Hoop pada tahun 1932, ia menyatakan bahwa peninggalan tersebut
dari masa yang lebih tua. Setelah penelitian Van der Hoop.

Penampilan peninggalan budaya
megalitik Pasemah sangat “sophiscated” dengan tampilnya pahatan-pahatan yang
begitu maju, dan digambarkan alat-alat yang dibuat dari perunggu memberikan
tanda bahwa megalitik Pasemah telah berkembang dalam arus globalisasi
(pertukaran) budaya yang pesat. Alat-alat perunggu yang dipahat adalah nekara
yang merupakan kebudayaan Dongson, Vietnam. Temuan peninggalan megalitik di
pasemah begitu banyak variasinya, berdasarkan survei yang dilakukan peneliti
Balai Arkeologi Palembang, Budi Wiyana telah menemukan 19 situs megalitik baik
yang tersebar secara mengelompok maupun sendiri (1996).
Keadaan lingkungan
wilayah Pasemah
Situs-situs
megalitik dataran tinggi Pasemah meliputi daerah yang sangat luas mencapai 80
km². Situs-situs megalitik tersebar di dataran tinggi, puncak gunung, lereng,
dan lembah. Situs Tinggihari, Situs Tanjungsirih, Situs Gunungkaya merupakan
situs yang terletak di atas bukit, sementara Situs Belumai, Situs Tanjungarau
dan Situs Tegurwangi merupakan situs-situs yang terletak di lembah. Dari hasil
penelitian Fadlan S. Intan diketahui bahwa daerah Lahat dibagi atas tiga satuan
morfologi (bentang alam), yaitu:
1. satuan
morfologi pegunungan
Satuan
morfologi pegunungan dengan puncak-puncaknya antara lain Gunung Dempo (3159
mdpl) dan pegunungan Dumai (1700 mdpl). Satuan
morfologi pegunungan merupakan tempat tersedianya bahan hasil letusan Gunung
Dempo yang menyebarkan lahar dan lava serta batuan-batuan vulkanis.
2. satuan morfologi bergelombang
Satuan
morfologi bergelombang ketinggian puncaknya mencapai 250 mdpl, lereng umumnya
landai, dengan sungai berlembah dan berkelok-kelok.
3. satuan morfologi dataran
Satuan
morfologi dataran dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.
Daerah Lahat
dengan batuan-batuan beku andesitnya telah dipilih menjadi tempat pemukiman.
Pemilihan ini tampaknya mempunyai pertimbangan-pertimbangan geografis dan
tersedianya batuan untuk megalitik. Keadaan lingkungan di Pasemah merupakan
daerah yang sangat subur yang memungkinkan penduduk di sana dapat
membudidayakan tanaman.
2. Dolmen dan Menhir

Tidak seberapa
jauh dari batas kabupaten, memasuki kota Lahat, di Kecamatan Merapi Barat,
terdapat suatu arca peninggalan megalitik, beserta dolmen dan menhir. Tinggalan
megalitik ini berada di pelataran SMPN 2 Merapi Barat. Arca tersebut dikenal
sebagai Batu Putri atau secara resmi seperti tertulis di plank: Arca Manusia Tanjungtelang. Dolmen yang
juga terbuat dari lapisan batupasir berwarna kuning keputih-putihan, berbentuk
seperti meja berukuran 1,5 x 1,5 m. Dolmen ini tergeletak berjarak 20 m dari
tempat arca berdiri.
Kompleks
peninggalan megalitik ini berada di sebelah utara dari sebuah sungai yang
menjadi sungai utama di Lahat, yaitu Aek Lematang. Sungai ini di dataran Lahat
mulai menunjukkan pola aliran berkelok-kelok atau bermeander, dengan
teras-teras sungai di bantaran kanan dan kirinya. Ada dugaan, teras sungai ini sebagaimana
teras-teras sungai besar di peradaban-peradaban kuno merupakan tempat yang
paling layak menjadi lantai kehidupan masyarakat purbakala. Di Kabupaten Lahat,
tinggalan arca megalitik yang tersebar sangat luas, cenderungan berada di
sekitar Aek Lematang, walapun beberapa di antaranya terpisah sangat jauh di
perbukitan yang mungkin mempunyai makna lain tersendiri.
Arca-arca
megalitik ini umumnya menggambarkan raksasa bersama hewan-hewan seperti gajah,
harimau, atau ular. Arca Batu Putri atau Manusia Tanjungtelang misalnya
menggambarkan seorang raksasa dengan kepala yang tidak jelas, bahkan hampir
seperti menggunakan helmet. Posisi kepalanya lurus, dengan tangan sedang
memangku seekor gajah. Kesan masyarakat awam akan melihat seolah-olah arca ini
belum selesai dipahat dan ditinggalkan begitu saja sebelum detailnya selesai.
Ada kesan kemesraan yang tertangkap antara raksasa dan gajak di pangkuannya.
Seolah-olah gajah itu adalah anak yang diasuhnya.
3. Batu Macan

Arca yang lain di
antaranya apa yang disebut sebagai Batu Macan di Desa Pagaralam, Pagergunung.
Arca ini menunjukkan seekor macan yang memeluk mesra dari belakang suatu figur
yang kurang begitu jelas, apakah seekor macan yang lain, seekor kera besar,
atau seorang raksasa. Adapun di Desa Muaradanau, di antara perkebunan karet,
dijumpai arca batu seorang raksasa yang sedang duduk bersila dengan satu kaki
tertekuk dipeluk lengannya yang memegang sesuatu yang mirip pisang. Raksasa ini
menindih mahluk mirip manusia yang lebih kecil yang seperti ditikam di punggung
dengan pisau yang dipegang tangan kirinya. Arca ini disebut sebagai Batu Buto.
Di Desa
Gunungmegang, Kecamatan Jarai, masih di Kabupaten Lahat, berbatasan dengan Kota
Pagaralam, beberapa tinggalan magalitiknya lebih bervariasi. Selain arca,
dijumpai juga ruang-ruangan yang dindingnya tersusun dari batu, sehingga
dikenal sebagai kubur batu atau bilik batu. Ahmad Rivai, warga Desa.
|
4.
Kubur
batu Tanjung Aro
|

Gunungmegang yang
diangkat sebagai juru pelihara oleh Balai Pelestarian Peninggalan Prasejarah
(BP3) Jambi mengatakan bahwa kubur-kubur batu dan arca-arca tersebar luas dan
sangat banyak di kaki Gunung Dempo. Di Gunung Megang saja sedikitnya terdapat
tiga situs yang menjadi tanggunungjawabnya, yaitu Kubur Batu Gunungmegang, Batu
Putri, dan Batu Orang.
|
5. Kubur Batu Pagaralam
|
![]() |
Semua
arca umumnya dipahat pada batupasir atau breksi volkanik, yaitu batu yang terbentuk
secara sedimentasi dari hasil letusan gunung api. Batunya memang keras dan
kompak. Tetapi dengan peralatan logam, bahkan batu lain yang dipipihkan atau
dibuat runcing, jenis batu arca dapat mudah dikerjakan. Begitulah mengapa
arca-arca ini dipilih dari bahan batu itu karena kemudahannya untuk dipahat dan
diukir. Adapun kubur dan bilik batu, umumnya menggunakan batu-batu yang lebih
keras seperti andesit. Pada umumnya, batu-batu untuk bangunan ini sedikit
sekali mengalami rekayasa, keculai lubang kecil atau goresan-goresan dangkal.
Dempo
sebagai kiblat. Menariknya, arah kubur batu dengan sangat tepat mengarah ke
puncak Gunung Dempo. Hal yang sama terukur dari wajah Batu Orang yang
seolah-olah tengadah mengamati puncak Gunung Dempo, sementara ia menindih seekor
gajah yang belalainya ia cengkeram dengan kuat. Keganjilan ada di arca Batu
Putri yang posisi kepalanya berada pada permukaan tanah, sehingga hampir
seluruh badannya berada di bawah tanah. Arca Batu Putri seperti dalam posisi
meringkuk dengan badan tertekuk membelakangi Gunung Dempo di arah barat daya,
dan kepalanya berpaling ke arah utara.

Arca lain di kaki Gunung Dempo disebut sebagai Batu Manusia Dililit Ular. Arca ini berada di tengah-tengah tegalan dan sawah yang sangat datar di Desa Tanjungaro, Pagaralam. Arca ini setinggi 1,5 m dengan diameter kira-kira 1 m, menggambarkan dua orang manusia yang sedang bergelut dan dililit ular. Anehnya ular-ular yang melilit mereka adalah kepanjangan lengan-lengan mereka sendiri. Di sini, arca ini tidak memiliki orientasi tertentu. Tetapi bersama-sama dengan batu besar lainnya, seluruhnya berjajar dalam satu orientasi yang lurus tepat ke puncak Gunung Dempo.
Sekali
pada beberapa arca arah hadapnya berbeda, tetapi secara umum posisi hadap
arca-arca ini hampir seluruhnya ke arah barat, atau lebih tepatnya lagi arah
barat daya (selatan-barat). Sehingga mungkin kita dapat bertanya: mengapa arah
barat daya? Wajah arca Manusia Tanjungtelang di Merapi Barat misalnya mengapa
tidak dihadapkan ke timur arah Bukit Serelo yang berbentuk jempol yang
bermorfologi cukup menonjol dan menarik perhatian, ada perkiraan bahwa semua
arca megalitik tersebut dihadapkan ke barat daya karena mengarah ke Gunung
Dempo (+ 3159 m). Gunung Dempo adalah satu-satunya gunung api aktif di Sumatera
Selatan pada Pegunungan Bukit Barisan.
|
6. Gunung
Dempo
|

Dengan
melihat hasil obsevasi ini, ada dugaan Gunung Dempo dijadikan kiblat bangunan
suci masyarakat megalitik Besemah. Gunung, terutama gunung api aktif, di
wilayah nusantara umumnya selalu menjadi tempat yang sakral atau disucikan.
Gunung api yang berbentuk kerucut yang puncaknya menjulang tinggi menggapai
langit, dipercaya sebagai tempat para dewa, atau bahkan perwujudan dari dewa
itu sendiri. Sesembahan selalu diberikan pada kawah-kawah gunung api aktif.
Misalnya pada masyarakat Hindu Bali. Hingga sekarang, orang-orang bali selalu
menempatkan arah pura ke arah gunung besar utama.
Secara
geologis, gunung api yang sedang tidak aktif memberi manfaat besar bagi
masyarakat yang hidup di kaki-kakinya. Tanahnya umumnya subur karena limpahan
dari letusan memberikan unsur-unsur kimia baru yang segar dari perut bumi.
Selain itu, karena puncaknya yang tinggi, gunung api juga seolah-olah menjadi
seperti magnet untuk awan-awan sehingga mendekat dan mencurahkan hujan di
atasnya. Akibatnya, sumber daya air melimpah ruah dari badan gunung api. Mata
air akan keluar di kaki-kakinya. Sungai-sungai berair bersih mengalir dari
lereng-lerengnya. Udara gunung api juga nyaman dan sejuk.

Tetapi
ketika aktif, letusannya sangat mengerikan dan mengancam kehidupan. Ledakannya
menggelegar luar biasa, menciutkan nyali para penghuni di bawahnya. Magma,
berupa cairan batu pijar bersuhu sekitar 1000 derajat Celcius, ketika
diletuskan menciptakan suatu fenomena kembang api yang sesungguhnya indah tapi
mengerikan. Aliran magma yang kemudian merayapi lembah-lembah ke arah hilir
sebagai aliran lava, masih bisa menghanguskan apa yang dilewatinya dengan suhu
masih 700 derajat Celcius. Belum lagi aliran sangat cepat awan panas yang
menrejang lereng masih bersuhu 500 derajat Celcius. Tidak akan ada yang dapat
selamat dari gunung api yang sedang murka ini.
Dengan
menggunakan analogi seperti itulah, masyarakat megalitik di Nusantara
menjadikan gunung api menjadi sesuatu yang patut dihormati. Maka ada dugaan
bahwa di Dataran Tinggi Besemah pembangun arca-arca dan bangunan-bangunan
megalitik mengarahkannya ke Gunung Dempo, karena gunung api itu hingga sekarang
masih aktif. Tanggal 25 September 2006, dari kawah aktifnya, Gunung Dempo
meletus menghasilkan awan debu setinggi 1 km di atas puncaknya. Di antara
ketenangan yang sangat lama, sekali-kali gunung api ini mengingatkan adanya
kekuatan alam yang sangat luar biasa dan bisa membinasakan. Beribu-ribu tahun
lalu, kondisi itulah yang mungkin dirasakan oleh masyarakat megalitik di
sekitar Besemah saat Gunung Dempo kemungkinan lebih aktif daripada kondisi tenang
sekarang ini.

